Showing posts with label Caption. Show all posts
Showing posts with label Caption. Show all posts

20 January 2013

Beza



hidup kita berbeza
agar tempat itu terisi semua

20 July 2012

'Ruang'



Seorang penulis selalu punya ruang istimewa untuk berkarya.
adalah suatu penyiksaan jika jiwa enggan menghantarnya ke sana.


03 May 2012




She is, after all

a woman.

18 April 2012

Entah-entah


entah-entah selama ini
kita hanya melihat bayang.


13 April 2012

seorang ketabahan

Rome, 2011



melintasi redup dan terang
seorang Jiwa dalam Persoalan
berbicara diam-diam
tentang hidup dan keinginan.

terserempak ia,
seorang Ketabahan 
berlama-lama di jalan derita
dengan jubah emasnya.

tanpa diminta Ketabahan bersuara,
 "bosan hanya menjadi penyakit orang berduit."

Jiwa dalam Persoalan
berpaling lalu
meneruskan perjalanan.


06 April 2012

bayang-bayang

Pagi di Cordova, sebelum ke Seville.




Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan



-Sapardi Djoko Damono-




Dalam satu wawancaranya,



  • P: Apa motivasi Anda untuk menulis?
  • S: Orang menulis itu motivasi satu-satunya karena suka membaca. Jika seseorang gemar membaca, keinginan untuk menulisnya akan muncul. Jadi motivasinya bukan karena ‘ingin apa’ atau ‘berita apa’.


  • P: Jika ada hal yang lebih hebat dari menulis, apakah itu?
  • S: Semua lebih hebat. Menulis itu tidak hebat. Orang bisa menciptakan pesawat terbang, bisa naik pesawat terbang. Kalau dari menulis puisi, orang tidak bisa naik puisi. Saya tidak pernah berpikir selain menulis. Hidup saya itu menggelinding saja. Saya suka menulis ya menulis.








02 April 2012

bahasa yang tak terbaca

Granada, Parque de la Ciencas.



Di sekeliling kita, saban waktu, 
ada bahasa yang disampaikan hanya 
dengan renung mata, kerut dahi, isyarat tangan, kelibat hadir. 
Banyak yang berlalu tanpa dibaca dan difahami.

Seperti helang dan tuannya.
(dan tuannya)
 Bahasa mereka misteri.
meriah dalam diam.

 peribadi.

Lalu, cabaran sebenar buat yang merasa membaca, 
 ialah tidak melangkaui penafsiran yang sepatutnya.

27 March 2012

Cinta




Malaga




Cinta mengikat,
dan kita

bebas di dalamnya.

25 March 2012

Inilah Saatnya


Saya menemukan 'hikmah' ini dalam petikan surat Cak Nur kepada puterinya,

"Kerana itu, inilah saatnya kamu menetapkan kearifan,

lebih baik mandi keringat saat latihan
daripada mandi darah saat pertempuran.

Lebih baik bersusah payah saat persiapan
daripada menerima derita nestapa saat perjalanan."



21 March 2012

Buatmu Sakura


menghidu warna dan lagu
merasakan rindu
indera yang hilang

tak semua kemanisan adalah manis.

16 March 2012

vertigo

Camera Obscura, Edinburgh



ada masa-masa dalam hidup
kita perlu pejamkan mata
dan terus melangkah.

11 March 2012

every action is a reaction


every dream is a dream.

21 January 2012

Senyum I


carilah hingga ke mana
takkan sama senyum keluarga.

=)


Terima kasih Lek Jaja sekeluarga.


22 December 2011

Masa



Dalam gambar kami berdamai
aku tidak memaksanya berhenti
dia tidak memaksaku pergi.

10 November 2011

Mentari Bulan Bumi



Cinta mentari pada bulan
lantaran rindunya pada bumi.

Tidak syaratnya bumi tahu.




_____________________

Empat hari Jaulah Jordan,
lelah dan rindu,
kan terbentang jalan pulang.

05 November 2011

Selamat Datang

Miram dan Ihab
Queen Alia-Cairo Airport
Bahagian kedua bulan pertama, 2011.
Mereka pulang dan kami memulakan perjalanan.




(Selamat datang 'anak-anak angkat Sungai Nil'!)

31 October 2011

Setelah Awan Emas


Setelah awan emas
mentari menghadiahkan
malam untuk kita

19 October 2011

'Apabila Dia Mencipta, Dia Mencintai'

 

sejernih ibu, setenang laut, seluas langit
seluas ibu, sejernih laut, setenang langit
setenang ibu, seluas laut, sejernih langit

seindah Dia mencipta
seindah Dia mencintai

14 October 2011

Dilema Guru

Mak, bersama kertas peperiksaan yang perlu ditanda sebelum cuti berakhir.
Pagi Pantai Tanjong Karang, berdua kami memecah sunyi, menanti terbit mentari.



Guru
kau tetap di sini mengira hari
menanti hujungan pena terhenti
mengakhiri sebuah ilusi
pendidik bermotivasi
atau hanya
penyuluh jalanan
di tengah samudera tak bertepi

Ainon Ahmad
Hari Guru 2006

___________________



Saya sayang semua guru-guru, cikgu-cikgu.
Sesungguhnya bukan mudah.
Tabik buat yang sedang berjuang, terus berjuang.
Penghargaan tetap untuk kalian.
Meski kami tak pantas membalasnya.
Meski bukan di sini..

05 October 2011

Masjid Cordova - Catatan yang Kehilangan Separuh Rohnya.


"Memang fungsi masjid tu sebagai tempat beribadah, dah hilang,
 tapi zaman kegemilangan Islam dekat sana..masih terpahat di situ.
Itulah yang saya akan cari kat sana nanti."
-Suria-










__________________________________________



Kami memasukinya pada hari Jumaat, setelah sebelah paginya melawat Medina Az Zahra. 
Sewaktu mula-mula menjejakkan kaki, saya sudah tergamam. Suasana suram, dan muram. Pengunjung tidak ramai hari ini. Saya mengambil tempat di kerusi panjang berdekatan pintu masuk, sambil melepas lelah berjalan jauh sepanjang hari. 

Ditegur petugas, disuruh menanggalkan penutup kepala (snow cap). Akur.

Teringat, pertama kali 'diperkenalkan' dengan masjid ini, oleh buku teks sejarah tingkatan empat, dalam siri kegemilangan pemerintahan Islam. Yang saya ingat disebutkan, Masjid Cordova, setiap hari menggunakan minyak yang cukup banyak untuk menyalakan lampu pada waktu malam. Lambang kemegahan tika itu.

Diam, lalu terbayang..

...ratus tahun lalu, pada waktu ini, berduyun-duyun muslimin masuk memenuhi masjid, menyertai yang sudah awal berada di dalam. Di luar kedengaran percikan air, muslim mengambil wudhu'. Terpancar cahaya bersih gemilang di wajah mereka, tanda luhurnya budi tulusnya hati.

Khatib naik ke mimbar. Memberi salam, disambut salamnya serentak ribuan muslimin yang hadir.
Azan kedua dilaungkan.
Khutbah dimulakan.

"Wahai saudara muslim sekalian...

..Peliharalah iman dan taqwa, dengannya kita memacu kehidupan...

...kejarlah ilmu pengetahuan, namun jangan sampai sebaliknya ia menjadi punca kita melupakan Tuhan. Ingatlah doa indah, 'Rabbi zidni 'ilma'. Segala ilmu adalah kurniaan Tuhan, bertambah ilmu, bertambah teguh pulalah kepercayaan kita kepada-Nya...

...bantulah fakir miskin antara kita, yang sebenarnya akan menjadi bekal kita sendiri. Bukankah hari akhirat itu yang lebih baik dan lebih kekal?...

Setiap yang hadir mendengar penuh khusyu'. 

Usai solat, masing-masing meneruskan kehidupan. Rancak. Peniaga kembali ke kedainya, penulis dengan dakwat dan pena, khalifah menguruskan negara. Semua bekerja dengan semangat baru, setelah dikumpulkan bersama sekalian saudara muslim, diingatkan dalam khutbah, bahawa pekerjaan umat ini, mereka pikul bersama.

...


Itu ratus tahun dahulu. 
Kini kami di sini bersambut sepi tiang-tiang, dan mihrab yang turut berhiba. Menangisi gereja yang dibina di ruang tengah masjid, mengadukan 'sunyi kami dari kalimah tauhid.'

Sedangkan mahu duduk merenung berfikir pun sudah dimarahi petugas, apatah lagi kalau mendirikan solat!

Cuba kita fikirkan, adakah umat Islam di sini dahulu terbayang bahawa suatu hari nanti, masjid rumah ibadah mereka saban hari akan menjadi tempat sembahan Tuhan Tiga, solat tak lagi didirikan, azan tak lagi dilaungkan?

Bagaimana kita di tanah air sendiri? Terjaminkah masjid-masjid besar tidak akan menjadi tempat sembahan kaum kuffar? Tidak sanggup rasanya membayangkan, masjid-masjid di negara kita sendiri bertukar fungsi sedemikian rupa, sedang kita di situ, menyaksikannya. 

Atas kerisauan itu, saya yakin setiap kita ada bahagian dan perjuangan masing-masing. Jikalau boleh saya berpesan, dan ini sebenarnya pesan saya pada diri sendiri,
" Jagalah hati. Itu masjid pertama kita."

__________________________________________


Ya, saya katakan kehilangan separuh rohnya. Sebenarnya, ini tulisan terkemudian, kerana yang pertama, ditulis benar-benar di dalam masjid tersebut, telah hilang bersama buku catatan. Dan saya tahu takkan sama. Saya tidak mampu menghadirkan 'dia' yang menulis tika itu, walau mencuba berkali-kali.

Namun, sekurangnya, masih ada separuh, untuk saya mengingat luka dan cinta ini.