Turun dari coaster sepulangnya dari jamiah petang tadi, insan-insan Malaysia seolah melambai...
Ah, rindu...
Segera saya pulang ke rumah, mendapatkan telefon celcom, untuk no sahabat-sahabat.
Kemudian ke Jiovanni ( lebih kuranglah ejaannya)..ha.
Kedai telefon murah yang menggunakan talian Voip. Saya pelanggan tetap.
Jordan jam 4.20 petang....Malaysia jam 10.20 malam.
Mangsa pertama : Nidzam Yatimi di DQ.
Bertanya khabar. Canggung-canggung sekejap. Teringat segala tepuk-tampar-smash-gol(winning)-sembangsembang-tumpangtumpang-'tolaktolak'-'tariktarik'-dan mak kami yang 'stylo'....
Sudah hampir ke garisan penamat, Juzuk 29. Moga terus menjadi pejuang untuk Islam, ya akhi.
Juga untuk Sohaib, Ridhwan Fadhil, Fadhil Husaini.
Solat maghrib.
Mangsa kedua : Teacher Norhajratuliqma Mansor.
Without doubt, my favourite teacher.
Tak pernah tidur tanpa rasa bersalah dalam kelas beliau....erk...
Sungguh rindu zaman 'terpaksa' siapkan karangan.
Teacher selesema. Baru baik demam katanya.
Sembang tentang sekolah tercinta, suasana baru, tentang Jordan, bertanya tentang senior-senior di sini.
Dan mengusik, saya menunggu kad kahwin!haha..
Teacher, maaf ya ganggu malam-malam.
Menelefon Syazwan Adzhar. Dua. Tiga. Tiada jawapan....Aiya..sudah lelap agaknya.
Mangsa ketiga: Mak tercinta.
Mak demam-demam. Gara-gara penat menempuh pendakian ke puncak Gunung Tahan.
Gusar, tapi saya sembunyikan.
blablabla...
moga mak cepat sembuh.
Pemangsa seterusnya..
Hmm,
Moga aman dan dimudahkan jalan membuat keputusan.
Ha...apa motif cerita ini semua ya?
Maaf, mungkin ini malam yang tak terlupakan.
Saya terkejut saya tidak terkejut.
Masa benar ajaib.
Untuk kalian, saya hidangkan dua sajak Salim A Fillah. Moga jadi pedoman dan pelembut jiwa. Rasanya ini dalam kategori Puisi Lambat Panjang....haha
Sedikit daripada TALI KOKOH
semakin mengenali manusia
yang makin akrab bagi kita
pastilah aib-aibnya
sedang mengenali Allah
pasti membuat kita
mengakrabi kesempurnaanNya
***
maka gantungkanlah harapan
dan segala niat untuk menjadi baik
hanya padaNya
hanya padaNya..
jadilah ia tali kokoh yang mengantar pada bahagia
dan surga.
KERINDUAN
di satu lepas maghrib aku rindu
pada saudara terkasihku
kukirim pesan padanya
“akhi, adakah tersisa kata untukku hari ini?”
***
dia menjawab, “doakan aku akh..”
kujawab, “selalu akhi, insyaallah. adakah kaupun mendoakan kami?”
“insyaallah”, jawabnya lagi.
***
aku tersadar telah melupakan sesuatu.
lalu bertanya lagi.
“adakah pinta khususmu,
yang kau ingin kami memohonkannya pada Allah untukmu?”
agak lama ia menjawab tanya kali ini.
lalu setelah isya’ tertunaikan..
“lembutkan hatiku. ampuni dosaku. perbaiki amalku.
aku merasa hati ini keras. keras sekali.”
***
malam kian larut.
menjelang istirahatku, sekaligus
mungkin juga saat ia sedang sibuk-sibuknya
aku mengatakan sesuatu
yang lebih tepat ditelunjukkan pada diriku
***
“ketika Sa’d ibn Abi Waqqash minta didoakan agar doanya mustajabah, Rasulullah bersabda kepadanya, ‘bantulah aku hai Sa’d, dengan memperbaiki makananmu!”
“ketika seorang sahabat lain minta didoakan agar bisa membersamai Sang Nabi di surga, beliau bersabda padanya, ‘bantulah aku dengan memperbanyak sujud!”
“akhi sayang.. doa kami jauuuh sekali bobotnya daripada doa Sang Nabi. hingga, jika beliau saja meminta agar para sahabat yang didoakan membantu doanya dengan ikhtiyar mereka, maka harapan kami akan ikhtiyar Ant berlipat-lipat akhi..”
“iya kan akhi?”
dengan gerimis, lalu kuhayati firman Allah yang kusampaikan padanya
“beramallah, -berikhtiyarlah-, maka Allah, Rasul, dan orang beriman akan melihat amal kalian”
“teriring doa kami selalu, semangat akhi!”
Lalalala.