Hari ini baru dia percaya. Sebuah tulisan punya sepasang mata.
Kadang ia ingkar, liar memandang dunia.
lalu sang penulis terdiam, mata ini, sekali ini, apa harus ditundukkan?
Cuma sayang, mata bukan lagi duduk termilik
ia bebas semahunya.
menyoroti jalan-jalan kelam sempit.
jejak tak terjejak
biru dunia.
merah dunia.
ungu dunia.
saksi sendiri wajah derita wajah bahgia,
menyusuri asal ia tercipta.
Maka di hujung usia itu,
dia berpesan,
Wahai penulis,
cermatlah dengan ribuan mata
terlahir dari celah jemarimu.
Ratusan setelah jasadmu pulang
ribuan itu tetap kan berkeliaran.
dengannya
kemanusiaan memandang kehidupan.
______________________________________
Saya simpan rangkap akhir. hehe.